Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

Foto Satelit: Kebakaran di Akhir Maret AS

11.24 Posted by Admin No comments
Foto Satelit: Kebakaran di Akhir Maret ASInfo Leony Li - Gumpalan asap, berbintik lanskap bagian tenggara Amerika Serikat pada akhir Maret, 2013. Tanda merah menunjukkan lokasi dimana anomali termal telah terdeteksi, dan, bila dikombinasikan dengan karakteristik bulu asap, mereka mengindikasikan aktif membakar kebakaran.

Yang Sedang Resolusi Imaging Spectroradiometer (MODIS) kapal satelit Aqua NASA memperoleh gambar ini pada tanggal 27 Maret 2013.

Pada minggu sebelumnya, sudah ada lebih dari 1.000 kebakaran baru yang dilaporkan di seluruh Selatan, termasuk yang terlihat disini, yang terbakar di Alabama, Georgia, South Carolina dan Florida.

Ada 17 kebakaran besar yang baru, dengan 3 yang tak terkendali, serta berbagai yang lebih kecil. A "api besar" didefinisikan oleh National Interagency Api Pusat (NIFC) sebagai api dari 100 hektar atau lebih terjadi di kayu, atau api dari 300 hektar atau lebih terjadi di rumput - bijak.

Selain kebakaran hutan ini ada banyak luka bakar ditentukan, yang diatur dan diawasi oleh berbagai lembaga baik untuk daerah menyingkirkan semak belukar yang dapat menyebabkan masalah di kemudian selama lebih panas, bulan kering, atau untuk keperluan pertanian.

Sumber: Redorbit

Jumat, 12 April 2013

Gambar: Es Laut di Teluk Hudson

08.25 Posted by Admin No comments
Gambar: Es Laut di Teluk HudsonInfo Leony Li - Setiap laut es musim dingin membentuk atas perairan asin dingin timur laut Kanada Teluk Hudson. Seperti sinar matahari memperpanjang dan menghangatkan cuaca, es mulai pecah dan mencair, dengan mundur biasanya dimulai pada bulan Mei dan mencair-out selesai sekitar bulan Juli.

Sejak tahun 1970, waktu pecahnya es laut di Teluk Hudson telah berubah, dengan pencairan dimulai awal musim semi.

Yang Sedang Resolusi Imaging Spectroradiometer (MODIS) kapal satelit Aqua NASA menangkap gambar ini benar-warna Teluk Hudson pada tanggal 26 Maret 2013. Meskipun salju masih menutupi tanah sekitarnya, es sudah mulai mundur dari banyak pantai timur Teluk terlihat dalam gambar.

Sebuah cincin terang es putih tetap kokoh beku sekitar Kepulauan Belcher di bagian tenggara dari Teluk, tapi cincin ini dikelilingi oleh perairan biru dan bongkahan es. Di barat daya, situasi yang sama terlihat di Pulau Akimiski.

Rak cerah es putih memberikan cara untuk membuka air di selatan, serta retak, berwarna biru es. Biru warna umum menunjukkan genangan air seperti es mulai melunak.

Sumber: Redorbit

Kamis, 11 April 2013

Gambar Yang Diambil dari NASA: Skandinavia Selatan

13.53 Posted by Admin No comments
Gambar Yang Diambil dari NASA: Skandinavia SelatanInfo Leony Li - Tertutup salju Skandinavia selatan pada hari-hari awal musim semi, 2013. Yang Sedang Resolusi Imaging Spectroradiometer (MODIS) kapal satelit Terra NASA menangkap gambar ini pada tanggal 23 Maret 2013.

Hitam garis perbatasan telah ditempatkan pada gambar untuk menggambarkan batas-batas negara. Norwegia, dengan salju diselimuti Skandinavia Pegunungan terletak di barat, dan Swedia terletak di timur. Es meliputi bagian selatan Swedia bi-lobed Lake Vanern (barat), sedangkan Danau Vattern (timur), tampaknya bebas es.

Di selatan, di tepi bawah gambar, ujung Denmark juga memakai mantel musim dingin putih. Swirls Tan dan teal berwarna cat air Laut Utara di pantai barat Denmark. Warna ini mungkin timbul dari mekar fitoplankton awal, sedimen dari pantai run-off - atau mungkin kombinasi dari keduanya.

Sumber: Redorbit

Senin, 08 April 2013

Inilah Hewan Air yang Dianggap Fosil Hidup

17.19 Posted by Admin 1 comment
Inilah Hewan Air yang Dianggap Fosil HidupInfo Leony Li - Horseshoe crab dari famili Limulidae, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut belangkas, merupakan jenis hewan beruas (artropoda) yang tinggal di perairan dangkal. Hewan yang menghuni kawasan hutan bakau ini berbentuk seperti ladam atau tapal kuda berekor.

Belangkas tidak berbahaya, umumnya hewan ini ditangkap di tepi-tepi pantai. Bentuk fosil hewan ini tidak mengalami perubahan besar sejak periode Devon, yakni periode waktu sekira 400-250 juta tahun yang lalu. Kabarnya, sekira 500.000 belangkas setiap tahun dikumpulkan di pesisir Timur AS, yang diatur di bawah hukum antarnegara bagian.

Belangkas memiliki kegunaan, berdasarkan informasi Wikipedia, hewan air ini menyerupai krustasea atau udang. Awal mula belangkas muncul melalui temuan fosil yang diyakini pernah hidup pada periode Ordovisium sekira 450 juta tahun lalu.

Seluruh tubuh hewan ini dilindungi oleh cangkang keras. Belangkas atau kepiting tapal kuda ini memiliki dua mata majemuk primer dan tujuh mata sekunder, di mana dua diantara tujuh mata sekunder ini berada di bagian bawah.

Hewan ini umumnya muncul ke pantai untuk kawin. Umumnya hewan ini digunakan sebagai umpan dan pupuk. Akan tetapi, penggunaan berlebihan konon menyebabkan penurunan jumlah individu belangkas.

Kerusakan habitat pesisir di Jepang dan di sepanjang pantai timur Amerika Utara juga semakin memperparah populasi hewan dianggap fosil hidup ini.

Beberapa waktu lalu terungkap, fosil belangkas atau kepiting tapal kuda ditemukan oleh bocah 10 tahun bernama Bruno Debattista dari sekolah Oxford. Fosil tersebut diyakini merupakan sepotong serpihan bebatuan yang dipercaya merupakan jejak belangkas berusia lebih dari 300 juta tahun.

Dilansir Sciencedaily, Senin (8/4/2013), para ahli dari Oxford University Natural History Museum terkejut ketika menemukan bahwa fosil ini merupakan jejak kaki yang ditinggalkan oleh kepiting tapal kuda. Fosil ini menunjukkan pergerakan hewan purba tersebut yang merangkak naik dari lereng berlumpur di pantai kuno sekira 320 juta tahun lalu.

Chris Jarvis, petugas di Museum dan penyelenggara Natural History After-School Club mengatakan, jejak kaki ini sangat langka dan sangat sulit untuk dilihat. "Jadi, kami kagum ketika Bruno menemukan di After-School Club kami," tutur Chris.

Ia mengungkapkan kekagumannya pada Bruno, yang masih seorang bocah 10 tahun. Bruno memiliki kemampuan untuk menduga bahwa objek tersebut merupakan fosil berusia ratusan juta tahun lalu.

Fosil temuannya ini telah dikonfirmasi oleh Museum sebagai jejak sepasang kepiting tapal kuda yang ada pada periode Carboniferous, yakni 308 - 327 juta tahun lalu. Ketika itu, laut perlahan-lahan mengalami perubahan akibat daratan Bumi bergerak bersama membentuk Pangaea.

Wikipedia menerangkan, pangaea adalah super benua yang ada selama era akhir Paleozoikum dan awal Mesozoikum. Super benua terbentuk sekitar 300 juta tahun yang lalu.

Minggu, 31 Maret 2013

Lebih Mengenal "Pemanenan" Energi Panas Bumi

19.32 Posted by Admin No comments
Info Leony LiInfo Leony Li - Di saat krisis energi mulai menghantui akibat terus berkurangnya cadangan bahan bakar fosil, para ahli mulai melirik berbagai potensi sumber daya alam lain sebagai sumber energi alternatif terbarukan untuk mengatasi krisis energi tersebut.

Salah satu potensi sumber daya alam yang cukup banyak dilirik sebagai sumber energi terbarukan di dunia adalah potensi panas bumi atau geothermal.

Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi yang begitu besar. Salah satu yang terbesar terdapat di bawah permukaan Gunung Salak yang kini telah menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak sejak tahun 2003.

Informasi itu disampaikan oleh Prasasti Asandhimitra, Team Manager Communication, Chevron Geothermal Salak Ltd., dalam kunjungan ke lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik Chevron Geothermal Salak, Sabtu (30/3/2013).

"Potensi panas bumi yang ada di Gunung Salak tergolong besar. Potensinya lebih dari 300 MWe," kata Sasti.

"Chevron Geothermal Salak Ltd sendiri telah beroperasi di Gunung Salak sejak tahun 1994, menggunakan mekanisme Kontrak Operasi Bersama dengan PT. Pertamina, dengan kapasitas operasi PLTP sebesar 377 MWe," tambahnya.

Lebih lanjut, Sasti menceritakan proses memperoleh dan mengolah energi panas bumi yang berlaku di PLTP Salak.

Tahapan pra-produksi yang dilakukan adalah survei di lokasi yang diperkirakan memiliki potensi panas bumi. Ini dilakukan guna mengetahui titik yang tepat untuk pengeboran dan perkiraan besaran potensi panas bumi yang ada.

Setelah ditemukan, lokasi tersebut kemudian dibor dan langsung dipasang pipa-pipa yang nantinya menjadi ‘sedotan’ tempat keluarnya uap panas dari dalam Bumi.

Jika uap panas sudah keluar, maka proses produksi mulai dilakukan dengan pemisahan uap panas dengan air panas yang terbawa keluar menggunakan separator. Air panas yang sudah dipisahkan dari uap panas, disebut water brine, diinjeksikan kembali agar nantinya bisa menjadi uap panas.

Uap panas yang diperoleh, kemudian disalurkan melalui pipa-pipa panjang menuju tahap selanjutnya, yakni pembersihan uap panas yang mungkin membawa partikel-partikel kotoran. Pembersihan dilakukan di dalam area scrubber. Pembersihan harus dilakukan untuk mencegah kerusakan pada turbin.

Uap panas yang sudah bersih kemudian dihubungkan fasilitas pembangkit listrik. Di fasilitas ini, uap panas digunakan untuk menggerakkan turbin. Pergerakan turbin ini yang nantinya menghasilkan energi listrik.

Energi listrik yang dihasilkan kemudian disambungkan ke pembangkit untuk dinaikkan dayanya dan selanjutnya didistribusikan kepada pelanggan melalui jaringan listrik yang dimiliki PLN Jamali (Jawa Madura Bali).

Sasti mengatakan bahwa tahap pembangkitan dan distribusi listrik bukan lagi kewenangan Chevron Geothermal Salak Ltd, melainkan kewenangan penuh yang dimiliki oleh PT. PLN.

Uap panas yang sudah termanfaatkan kemudian didinginkan dan selanjutnya diinjeksikan kembali ke dalam bumi. "Dari 100% uap panas yang diperoleh, 70%-nya didinginkan dan kemudian dikembalikan ke dalam bumi, dan sisanya dilepaskan ke udara," kata Sasti.

Energi yang dihasilkan dari PLTP tergolong energi bersih dan terbarukan, karena selama proses produksinya, hampir tidak melepaskan emisi karbon.

Disebut terbarukan karena air sisa produksi yang tidak termanfaatkan diinjeksikan kembali ke dalam bumi, yang nantinya akan ‘dimasak’ oleh magma menjadi uap air yang bisa dimanfaatkan. Dan, ini adalah sebuah siklus yang terus berlanjut.

PLTP Salak yang dioperasikan oleh Chevron Geothermal Salak Ltd menempati lahan kurang lebih seluas 200an Ha, dari 10.000 Ha luasan yang tercantum dalam kontrak eksporasi, yang berada di dalam kawasan TNGHS.

Sasti mengungkapkan, mengingat site project-nya kini telah menjadi bagian dari TNGHS, upaya pengelolaan kawasan hutan yang ada disekitar lokasi pembangkit dan perkantoran yang ada disana mengikuti kaidah konservasi sebagaimana instruksi dari Balai Pengelola TNGHS.

"Contohnya, kita (Chevron) diwajibkan untuk melakukan penanaman kembali usai kita melakukan pengeboran. Jenis tanaman yang boleh ditanam pun tidak sembarangan, harus spesies asli (indigenous spesies) dari ekosistem ini, misalnya rasamala, huru, puspa," ungkap Sasti.

"Pemasangan pipa juga tidak boleh sembarangan. Pipa yang dipasang harus memikirkan jalur migrasi hewan" tambahnya.

Sasti mencontohkan, bila pipa yang akan dipasang ternyata berada pada jalur migrasi macan tutul jawa (Panthera pardus melas), maka pipa yang dipasang harus didesain agar hewan tersebut tetap nyaman ketika melewati jalurnya.

Hal ini menjadi perhatian, pasalnya di kawasan TNGHS, termasuk kawasan PLTP Salak masih ada beberapa jenis hewan seperti macan tutul jawa, owa jawa (Hylobates moloch), lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan elang jawa (Nisaetus bartelsi), yang statusnya dilindungi.

Jumat, 29 Maret 2013

Ilmuwan Jelaskan Proses Pembentukan Lempeng Bumi

17.56 Posted by Admin No comments
Info Leony LiInfo Leony Li - Sebuah foto menunjukkan bagaimana bentuk penampilan lapisan vulkanik terbesar yang ada di Bumi. Dijelaskan dalam jurnal Nature, secara rinci dapat dilihat ada magma cair di bawah tengah laut Ridge. Magma ini membentuk patahan lempeng tektonik seperti bola kasti raksasa di dasar laut.

Sebagian besar komposisi bumi (sekira 70 persen) merupakan air berupa samudera yang dilapisi kerak, terutama basal (batuan beku). Basal ini terbentuk dari magma yang keluar dari pegunungan di tengah laut. Adapun, pegunungan ini setinggi 40 ribu mil (sekira 65 ribu kilometer) di atas permukaan laut.

Dilansir NBC News, Jumat (29/3/2013), peneliti geologi tidak memiliki gambar yang jelas mengenai struktur dasar pegunungan. Hal ini membuat peneliti belum dapat mengungkap bagaimana pergerakan magma tersebut ke permukaan laut.

"Ini masih menjadi bagian tersulit untuk kami teliti," kata seorang seismolog di Scripps Institution of Oceanography, San Diego, Amerika. Peneliti menggunakan teknik pencitraan elektromagnetik untuk mencari elemen listrik dan magnetik alami yang ada di dalam Bumi.

Studi ini menemukan bahwa kulit kerak Bumi seperti sabuk raksasa dengan lempengan yang menyebar terpisah di pegunungan yang terletak di tengah laut. Mereka menemukan sebuah kunci simetrikal, zona lelehan sempit di bawah wilayah Pasifik Timur.

Ini menunjukkan bahwa mantel (lapisan di bawah permukaan laut) dengan mudah mengisi ruang yang diciptakan oleh lempeng yang tersebar. Apabila mantel tersebut mendorong lempeng, ilmuwan menduga ada konveksi lokal, seperti lelehan asimetris.

"Ini benar-benar membantu kami untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana cara kerja dan bagaimana cara magma mencair dari gunung itu," kata seorang ahli geofisika kelautan di Brown University, Don Forsyth.

Rabu, 27 Maret 2013

Cairnya Es Kutub Tunjukkan Pola Cuaca Ekstrem

14.55 Posted by Admin No comments
Info Leony Li

Info Leony Li - Mencairnya es laut di daerah kutub (Arktik) terkait dengan pola cuaca ekstrem di Amerika Serikat serta area lainnya di belahan bumi utara. Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan dari University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat.

Dilansir Latimes, Rabu (27/3/2013), beberapa peneliti mengatakan, pemanasan kondisi di wilayah Arktik ini dapat melemahkan jet stream (aliran jet) dan menyebabkan sistem cuaca ekstrem di bagian utara pertengahan garis lintang.

Stephen Vavrus, ilmuwan senior di Nelson Institute for Environmental Studies, University of Wisconsin mengatakan, dampak sistem cuaca ekstrem ini akan dapat mencairkan es. Selain itu, kondisi ini bisa mengakibatkan peningkatan suhu di Kutub.

Jet stream (aliran jet) adalah sebuah pita angin yang sangat kuat, yang menghembus dari arah barat ke timur. Angin ini bergerak beberapa mil di atas permukaan Bumi.

Biasanya, angin kuat ini mendorong sistem cuaca di sekitarnya. Selain itu, kabarnya angin yang kuat ini bisa mengakibatkan sistem cuaca berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk waktu yang lama.

Kendati demikian, hilangnya es laut dalam beberapa dekade terakhir memungkinkan perairan Arktik menyerap energi panas secara lebih dari matahari. Sehingga, ini akan memanaskan atmosfer di atas air.

Pemanasan ini juga mempengaruhi tekanan atmosfer dan tampaknya akan memperlambat jet stream barat. "Saat itu terjadi selama musim dingin, ada sedikit udara hangat yang diangkut di atas daratan," jelas Vavrus.

Es laut kutub disebut sebagai air conditioner (AC) planet, karena pengaruhnya terhadap suhu global. Tahun lalu, es laut kutub utara kabarnya mencapai tingkat terendah.

Hilangnya es laut ini lebih cepat ketimbang model prediksi yang dilakukan ilmuwan. Beberapa ahli mengatakan, kutub utara bisa saja mengalami kondisi tanpa es selama musim panas pada 2020.

Selasa, 26 Maret 2013

Peneliti Temukan Kawah Terasin di Antartika Mirip Mars

05.51 Posted by Admin 3 comments
Info Leony Li

Info Leony Li - Tim peneliti geologi dari Brown University, Rhode Island, Amerika Serikat (AS) telah menemukan sebuah kandungan garam tertinggi pada kawah yang terbentuk di Antartika.

Dilansir LabNews, Senin (25/3/2013), temuan yang diterbitkan dalam Scientific Reports ini, menunjukkan kadar garam pada kawah tersebut sama dengan yang ditemukan di Mars.

Kandungan garam dalam kawah Don Juan Pond di McMurdo Dry Valleys, Antartika, delapan kali lebih tinggi dibandingkan dengan Laut Mati. Hebatnya, fenomena alam ini terjadi di salah satu tempat terdingin dan terkering di Bumi.

Tim peneliti menggunakan kamera time lapse menunjukkan foto-foto yang menunjukkan bahwa air di kawah itu merupakan hasil dari pembekuan es di Antartika.

"Dari 16 ribu foto yang berhasil kami ambil menunjukkan bahwa air berasal dari sebagian salju yang mencair saat siang hari. Namun, data ini belum membuktikan darimana asal kandungan garam tinggi dalam kolam itu," kata ketua peneliti, James Dickson.

Hasil penelusuran lebih lanjut menyatakan, kandungan air bergaram itu berasal dari sebuah endapan di dasar tanah kawah. Karena garam dalam tanah akan menyerap udara yang lembab, proses ini disebut dengan deliquescence.

Kemudian, kadar air yang mengandung garam tersebut mengalir ketika salju mencair ke sela-sela lapisan tanah yang menyebabkan terbentuknya sebuah kawah.

Tak hanya itu, foto-foto di Don Juan mirip dengan foto yang tertangkap di Mars. Beberapa peneliti percaya bahwa garis-garis pada foto menunjukkan kemungkinan adanya air mengalir di Planet Merah tersebut.

"Secara umum, tekstur dan tingkat kadar garam yang ada di Don Juan mirip dengan seperti yang ditemukan di Mars. Akan tetapi, bukan pada keadaan Mars saat ini melainkan kehidupan di Planet Merah itu di masa lalu," lanjut Dickson.

Senin, 25 Maret 2013

Inilah Wajah Kota-kota Dunia Dilihat dari Luar Angkasa

20.03 Posted by Admin No comments
 Info Leony Li

Info Leony Li
- Keindahan sebuah kota ternyata tak hanya tampak pada gedung-gedung megah dan aneka landmark yang dimiliki kota tersebut. Tata kota dan tata lampu sebuah kota juga merupakan obyek yang menarik dan indah, apalagi bila dilihat dari udara.

Beberapa foto yang sangat indah dan mengagumkan bertemakan kilau cahaya di kota besar berhasil diabadikan oleh 33 orang kru NASA yang ikut dalam ekspedisi di stasiun luar angkasa, International Space Stasion (ISS).

Foto-foto ini diambil dari ketinggian 240 mil (386,24 km) dari permukaan Bumi, saat stasiun luar angkasa sedang berputar mengelilingi Bumi.

Para astronot itu memotret hamparan beberapa kota besar di dunia, mulai dari Baltimore, Maryland, hingga pesisir Tokyo.

Dari foto-foto yang ditampilkan, tampak karakteristik khas dari tiap-tiap kota. Sebagai contoh, kota yang ada di pesisir memiliki cahaya paling padat, khususnya di daerah tepian air. Ciri ini berbeda dengan kota yang pembangunan besar-besarannya baru dilakukan seperti Kuwait, pola yang tampak seperti jala.

Berikut ini beberapa foto hasil karya astronot NASA yang dilansir oleh Daily Mail, Minggu (24/3/2013).

Reno, terletak di kaki bukit Sierra Nevada, dilihat dari International Space Station.


The biggest little city in the word: Reno, nestled in the foothills of the Sierra Nevada, as seen from the International Space Station

Kota Porto (kiri) dan Vila Nova de Gaia (kanan) yang terletak di sekitar Sungai Douro.

By the sea: The city of Porto (left) and Vila Nova de Gaia (right) astride the Douro River on the northwestern coast of Portugal

Cleveland, Ohio

Miles below: Crew on the space station took this picture of Cleveland, Ohio, flying at an altitude of approximately 240 miles

London

London calling: Astronaut Chris Hadfield took this photograph of the British capital

Istanbul, Turki dengan Terusan Bosporus

Sparkling: A nighttime view of Istanbul, Turkey with the Bosporus strait separating the two halves of the city

Tokyo, Jepang

Intricate: The north west side of Tokyo Bay in Japan. The mammoth city has a population close to 13million

Liege, Belgia

World web: Liege in Belgium sprawls out into the darkness of the surrounding countryside like a spider's webb

Sicily, Italia

Little Italy: The county's boot-like shape and nearby Sicily as seen from 240 miles above ground

Kuwait City

Eastern delight: A nighttime view of Kuwait City with its neat urban planning. The metropolitan area has a population of two and a half million

Baltimore, Maryland.

Pretty as a picture: A view of Baltimore, Maryland. The city is situated on the mid-Atlantic coastline along the terminus of the Patapsco River into Chesapeake Bay

Shenyong, China

On the grid: Shenyang on China at night with the smaller city of Sujiatun (pictured left)

Jumat, 22 Maret 2013

Semesta 100 Juta Tahun Lebih Tua dari Dugaan

16.13 Posted by Admin No comments
Semesta 100 Juta Tahun Lebih Tua dari DugaanInfo Leony Li - Kajian terbaru berdasarkan pemetaan cahaya tertua menunjukkan bahwa semesta berusia 100 juta tahun lebih tua dari dugaan. Dengan demikian, Dentuman Besar (Big Bang) terjadi 13,82 miliar tahun yang lalu.

Penemuan ini adalah hasil kerja dari wahana antariksa Planck milik European Space Agency (ESA). Wahana ini memetakan apa yang disebut Radiasi Gelombang Mikro Kosmos, radiasi gelombang mikro dari masa-masa awal semesta.

"Astronom telah ada di kursi mereka menunggu penemuan ini. Penemuan ini penting dalam banyak area sains maupun misi luar angkasa masa depan," kata Joan Centrella, ilmuwan program Planck di Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), seperti dikutip Space, Kamis (21/3/2013).

Radiasi gelombang mikro kosmos adalah cahaya yang berasal dari masa 380 juta tahun setelah Dentuman Besar. Sebelum masa itu, semesta sangat rapat sehingga cahaya tidak dapat bergerak tanpa terjebak dalam plasma proton dan elektron.

Radiasi tersebut pertama kali terdeteksi tahun 1964. Selanjutnya, pernah dideteksi dengan wahana NASA, COBE yang diluncurkan tahun 1989 dan WMAP tahun 1991. Kini Planck dengan sensitifitasnya berhasil mendapatkan variasi temperatur pada radiasi latar gelombang mikro kosmos lebih detail.

"Variasi dari tempat ke tempat dalam peta yang dibuat Planck memberitahukan pada kita apa yang terjadi pada 10 nano nano nano nano detik setelah Big Bang, ketika semesta mengembang triliunan kali," kata Chris Lawrence, ilmuwan program Planck di Jet Propulsion Laboratory, NSA.

Diberitakan Reuters, Kamis, selain menunjukkan umur semesta, temuan terbaru juga memberitahukan komposisi semesta. Materi biasa seperti yang menyusun bintang, galaksi, planet dan sebagainya berjumlah sangat kecil, cuma 4,9 persen dari seluruh semesta.

Sementara itu, materi gelap yang menyusun semesta mencapai 26,8 persen, mencapai seperlima lebih besar dari yang diduga sebelumnya. Energi gelap yang terkait pada mengembangnya semesta sendiri terdiri atss 69 persen komponen semesta.

Sumber: http://info-leonyli.blogspot.com

Bumi Ternyata Punya Pelicin

16.08 Posted by Admin No comments
Bumi Ternyata Punya PelicinInfo Leony Li - Selama puluhan tahun, peneliti geologi berdebat mengenai faktor pendorong dan keadaan yang membuat pelat tektonik Bumi meluncur yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi besar.

Berbagai hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa air yang larut dalam lapisan mineral di mantel Bumi membuat lapisan mantel yang lebih elastis yang mungkin mempermudah terjadinya gerakan pada pelat Bumi. Namun hingga kini bukti yang dibutuhkan untuk mengonfirmasi gagasan tersebut sulit didapatkan.

Riset terbaru peneliti Scripps Institution of Oceanography di University of California San Diego dan Woods Hole Oceanographic Institution mengungkap bahwa lapisan magma di mantel Bumi mungkin memiliki peran sebagai 'pelumas' yang membuat pelat tektonik bumi tergelincir. Inilah yang kemudian menyebabkan gempa besar.

Fakta itu terungkap dari ditemukannya lapisan magma setebal 25 km di tengah benua Amerika pada parit Nikaragua. Lapisan magma itu diketahui berada di bawah tepi pelat Cocos dimana pelat itu bergerak di bawah Amerika Tengah.

Gambar lokasi magma tersebut diambil selama ekspedisi pada tahun 2010, setelah peneliti berhasil merekam sinyal elektromagnetik yang memetakan sifat dari kerak dan mantel Bumi. Mereka menemukan adanya magma di tempat yang tidak mereka kira sebelumnya.

"Hasil ini benar-benar di luar dugaan" ujar Kerry Key, asisten penelitian geofisika di Cecil H. and Ida M. Green Institute of Geophysics and Planetary Physics at Scripps, yang terlibat dalam penelitian.

"Kami berangkat dengan untuk mendapatkan jawaban mengenai bagaimana cairan berinteraksi dengan subduksi pelat Bumi. Akan tetapi kami justru menemukan sebuah lapisan magma yang kami tidak duga akan kami temukan. Temuan ini sangat mengejutkan" jelasnya.

Samer Naif, ketua tim peneliti yang juga mahasiswa pascasarjana di Scripps, mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki, air tidak dapat mengakomodasi sifat-sifat kerak dan mantel bumi.

"Informasi yang kami dapat dari gambar terbaru mengonfirmasi sebuah gagasan bahwa diperlukan adanya magma di lapisan atas mantel. Hal itulah yang membantu terciptanya sifat elastis pelat bumi, yang membuat ia tergelincir," kata Naif seperti dikutip Science Daily, Rabu (20/3/2013).

Menurut peneliti, temuan ini akan membantu para geolog memahami struktur dari batasan pelat bumi dengan lebih baik serta bagaimana hal tersebut berdampak pada gempa bumi dan vulkanisme.

Kini peneliti sedang berupaya menemukan sumber yang menyuplai magma ke dalam lapisan Bumi yang baru terungkap itu.

Dalam penelitiannya, Naif dan Key dibantu oleh Steven Constable dari Scripps, dan Rob Evans dari Woods Hole Oceanographic Institution. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (21/3/2013).

Dikutip dari: sciencedaily

Rabu, 20 Maret 2013

Efek Pancaroba Picu Kemunculan Angin Ribut

17.26 Posted by Admin No comments
Efek Pancaroba Picu Kemunculan Angin RibutInfo Leony Li - Peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau atau pancaroba, ditandai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Bila siang hari bisa sangat terik, namun di kala sore atau malam bisa turun hujan dengan sangat deras, inilah tanda-tanda telah memasuki musim pancaroba, khususnya di Jakarta.

"Pola-pola musim pancaroba, umumnya akhir Maret sampai April," kata Tri Handoko Seto, Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan (BPPT) melalui percakapan dengan telefon kepada Okezone, Rabu (20/3/2013). Ia mengungkapkan, kemungkinan hujan besar bisa terjadi pada minggu terakhir April, namun intensitasnya sudah kian menyusut, tidak seperti hujan deras yang mengguyur Jakarta beberapa waktu lalu.

"Peluang banjir kecil, masih ada hujan harian yang cukup deras, peluang jadi menurun, tetapi tetap tidak bisa dipastikan," ungkap Tri. Ia mengatakan, Teknologi Modifikasi Cuaca atau TMC untuk banjir sudah dihentikan. Sedangkan TMC (hujan buatan) untuk mengisi waduk guna mendukung cadangan air ketika memasuki kemarau direncanakan pada awal bulan depan di beberapa daerah seperti Pekanbaru, Jawa Timur serta Kalimantan Selatan.

Dampak pancaroba ternyata mampu menimbulkan angin ribut bisa saja melanda wilayah Indonesia. Menurut Thomas Djamaluddin dari Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), yang perlu diwaspadai ialah pada saat mulai menuju pancaroba. "Efek pemanasan lokal ini memicu terjadinya konveksi lokal (pembentukan awan) yang bisa memicu uap air atau udara yang basah mencapai pada ketinggian yang sangat dingin," tuturnya.

Sehingga, dengan demikian bisa memicu terjadinya hujan es disertai angin ribut atau puting beliung. "Efek pemanasan lokal dengan kondisi dinamika atmosfer musim pancaroba, bisa menciptakan hujan es disertai puting beliung. Kalau tekanan dari awan ketika turun hujan berinteraksi dengan angin, maka bisa menimbulkan angin pusaran atau angin puting beliung lokal," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, wilayah yang pemanasan lokalnya efektif dengan kandungan uap air yang intens, maka ini bisa berpotensi membentuk awan cumulonimbus yang aktif secara lokal. "Ini bisa menimbulkan hujan keras dan angin berpusar. Dalam kondisi tertentu, mencapai ketinggian tertentu bisa memunculkan kristal es, baik butiran besar atau kecil," terangnya.

Kristal es ini memiliki ukuran bervariasi, mulai dari seukuran satu butir beras, hingga sebesar kacang atau kelereng. "Es ini merupakan kondensasi awan yang menciptakan kristal es," pungkasnya.

Dikutip dari: okezone

Ini Penjelasan Mengapa Cuaca di Jakarta Begitu Panas?

15.30 Posted by Admin No comments
Ini Penjelasan Mengapa Cuaca di Jakarta Begitu Panas?Info Leony Li - Meskipun saat ini masih dalam rentang musim penghujan yang umumnya berlangsung dari November - Maret 2013. Namun, kondisi cuaca di Jakarta saat ini terasa panas.

Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), menjelaskan bahwa terik matahari yang begitu menyengat disebabkan karena posisi Matahari berada di atas khatulistiwa dan gelombang Madden–Julian oscillation (MJO).

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), Tri Handoko Seto kepada Okezone, Rabu (20/3/2013) mengatakan bahwa saat ini masih musim hujan, tetapi dalam musim hujan ini terdapat MJO.

"Di wilayah Indonesia pada umumnya, khususnya Jakarta, kondisi pertumbuhan awan berkurang. Akan tetapi akan meningkat lagi pada kira-kira minggu terakhir April," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa MJO atau fenomena ostilasi ini hanya berlangsung sekira 45 hari, di mana pada periode ini bisa memunculkan banyak hujan atau sebaliknya. "Suatu wilayah puncaknya bisa 2 minggu. Meskipun musim hujan, kalau terdapat ostilasi ini, maka pertumbuhan awan hujan bisa berkurang," terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, peningkatan awan saat ini diprediksi akan berkurang, "Namun demikian, ini harusnya sudah masuk pancaroba. Ciri-cirinya, sudah banyak hujan, namun di siang terik, siang sampai sore tiba-tiba ada mendung yang gelap, hujan deras tetapi tidak sampai berjam-jam. Pola-pola musim pancaroba, umumnya akhir Maret sampai April," jelasnya.

Garis Khatulistiwa

Di Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali, NTT, Sumatera Selatan, musim penghujan umumnya terjadi pada November sampai dengan Maret atau Oktober sampai April.

Tri mengatakan, puncak musim hujan terjadi pada Desember sampai Maret. Maret bisa muncul pancaroba, sedangkan Juli atau Agustus masuk kemarau. Pancaroba merupakan transisi dari dua musim.

Thomas Djamaluddin dari Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menjelakan bahwa MJO merupakan periodisitas aktivitas konveksi pembentukan awan. "Ada fase sangat aktif dan fase tidak aktif," imbuhnya.

Yang menyebabkan matahari menjadi sangat terik di Jakarta ialah, terdapat awan konveksi, di mana pada kondisi ini akan menimbulkan pemanasan yang lebih efektif. "Ditambah posisi matahari ada di ekuator (garis khatulistiwa), pancaran matahari tegak lurus dan pemanasan lebih efektif," jelas Thomas.

Sumber: Okezone

Efek Rumah Kaca Perburuk Kondisi Cuaca Panas Jakarta

15.26 Posted by Admin No comments
Efek Rumah Kaca Perburuk Kondisi Cuaca Panas JakartaInfo Leony Li - Efek rumah kaca bisa memperparah kondisi cuaca panas di Jakarta. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), Tri Handoko Seto.

Diakuinya saat ini sudah memasuki musim pancaroba atau peralihan dari musim penghujan menuju kemarau. Menurutnya, yang menyebabkan panas lokal (terik) di Jakarta diakibatkan oleh posisi matahari dan fase Madden–Julian oscillation (MJO).

Efek rumah kaca merupakan kondisi di mana panas yang salah satunya berasal dari terpaan matahari, tidak bisa keluar akibat tertahan oleh awan dan gas karbondioksida. "Karena matahari sangat kuat, dalam kondisi yang panas ini, ada penampakan awan. Panas yang sampai ke Bumi, tetapi ketika dia ada awan, kondisi ini menimbulkan 'ongkeb'," ujarnya kepada Okezone, Rabu (20/3/2013).

Di bulan ini khususnya, semakin ada awan maka semakin panas. Ia menjelaskan, bila di pagi hari ada pemanasan, ketika siang hari uap air mantul karena mataharinya ada di garis khatulistiwa. "Efek rumah kaca ini, diakibatkan banyaknya polusi," tambahnya.

Ia mengatakan, semakin banyaknya polusi dengan teriknya matahari pagi, maka panas ini akan memantul ke atas. Oleh karena terdapat awan tebal, maka panasnya seolah tertahan dan terperangkap, sehingga menjadikan suhu Bumi dapat meningkat.

"Polusi juga bikin awan jadi lama dalam pembentukan awan (untuk hujan). Sehingga, ini semakin memperparah (suhu tinggi) secara lokal," tuturnya.

Ia mengungkapkan, apabila tidak ingin efek rumah kaca ini menimbulkan kenaikan suhu Bumi atau cuaca panas secara lokal. Maka, polutan harus dapat dikendalikan. "Apabila panasnya ukuran wajar, tidak masalah, karena ini adalah siklus," imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, justru kondisi ini di wilayah Indonesia bagian utara, misalnya Kalimantan utara, menyebabkan wilayah menjadi dingin.

"Secara umum, wilayah Indonesia terutama tengah dan selatan, cukup panas. Efek-efek lokal dipengaruhi osilasi akan mempengaruhi pertumbuhan awan. MJO bisa terjadi sepanjang tahun. Fase basah, hujan sangat tinggi menimbulkan potensi banjir, fase kering, hujannya jarang," pungkasnya.

Sumber: Okezone

Senin, 18 Maret 2013

Gempa Bumi Bisa Ubah Air jadi Emas

15.01 Posted by Admin No comments
Info Leony LiInfo Leony Li - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa gempa bumi bisa memicu sebuah proses yang mengubah air menjadi emas. Penelitian yang dilakukan ilmuwan asal Australia ini menjelaskan bagaimana proses alam ini mampu memunculkan bongkahan emas hingga memiliki berat sekira 2 kilogram.

Dilansir NBC News, Senin (18/3/2013), penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience ini mengungkap bahwa air menguap selama gempa bumi dan menyimpan kandungan emas. Model penelitian yang diungkap Dion Weatherley dari University of Queensland ini menjelaskan mekanisme kuantitatif untuk menghubungkan antara emas dan kuarsa.

Kuarsa merupakan penyusun utama dalam pasir, batuan dan berbagai mineral. Kuarsa bersifat tembus cahaya ultraviolet, yang biasanya digunakan juga dalam alat optik.

Ketika gempa bumi menyerang,  terdapat material yang bergerak di sepanjang retakan tanah. Fraktur besar ini memiliki fraktur kecil dengan berbagai ukuran panjang.

Sekira 6 mil (10 kilometer) di bawah permukaan tanah, terdapat suhu dan tekanan yang luar biasa. Air membawa konsentrasi karbondioksida tingkat tinggi serta silika dan elemen emas.

Selama gempa bumi, retakan tiba-tiba akan terbuk lebar. Air yang tersimpan akan dapat menguap, kemudian memaksa silika membentuk kuarsa mineral dan emas keluar dari cairan, serta melapisi ke permukaan di dekatnya.

Peneliti Australian National University di Canberra, Richard Henley mengungkap proses tersebut. Sementara itu, ilmuwan telah lama menduga bahwa penurunan tekanan tiba-tiba dapat menjelaskan hubungan antara deposito emas raksasa ke retakan kuno.

"Bagi saya, tampaknya ini cukup masuk akal. Ini adalah sesuatu yang orang mungkin ingin model eksperimental  atau numerik dalam sedikit detail lebih rinci guna melihat apakah ini benar-benar akan bekerja," ungkap peneliti Jamie Wilkinson di Imperial College London, Inggris.

Sumber: http://info-leonyli.blogspot.com

Ditemukan Kehidupan di Bawah Permukaan Laut

14.57 Posted by Admin No comments
Info Leony LiInfo Leony Li - Ilmuwan baru-baru ini mengungkap temuan kehidupan mikroorganisme di dasar laut terdalam di dunia. Tepat 11 kilometer di bawah permukaan laut, ilmuwan asal Denmark menemukan kehidupan mikroorganisme tersebut.

Dilansir Independent, Senin (18/3/2013), bakteri ini lebih tepatnya ditemukan di Palung Mariana. Palung Mariana merupakan jurang raksasa di dasar laut yang cukup besar untuk 'menelan' seluruh Gunung Everest.

Ilmuwan telah menemukan komunitas mikroba yang berkembang dari mikroba yang hidup pada titik terdalam di permukaan Bumi. Penelitian ini dilakukan di area lembah dasar laut Samudera Pasifik.

Bakteri ini pulih dari sedimen lumpur pada titik di bawah pusat barat Samudera Pasifik yang dinamakan Challenger Deep di Mariana Trench. Ahli biologi kelautan mengatakan, mereka terkejut menemukan bentuk kehidupan mikroba dari benda mati dan membusuk yang tenggelam ke bagian terdalam di dasar laut.

Diketahui bahwa dasar laut memiliki tekanan seribu kali lipat lebih besar ketimbang tekanan di permukaan laut. "Mikroba ini mungkin sebenarnya makhluk hidup yang paling dekat dengan inti Bumi," ujar Profesor Ronnie Glud dari University of Southern Denmark.

Ia mengatakan bahwa ilmuwan berharap untuk dapat mengetahui lebih detail mengenai mikroba unik tersebut. "Apa yang benar-benar mengejutkan kami ialah bahwa kami telah melihat bakteri yang mampu beroperasi secara efisien di kedalaman (dasar laut) tersebut," tuturnya.

Ilmuwan menjelaskan bahwa mikroba ini memakan aliran konstan dari bahan organik yang tenggelam ke dasar laut di Samudera Pasifik. Dengan demikian, mikroba ini memainkan peran penting dalam siklus karbon global terkait jumlah karbon dioksida yang beredar di atmosfer Bumi.

Kamis, 14 Maret 2013

Suhu Bumi Terpanas Pernah Pada Zaman Firaun

08.27 Posted by Admin No comments
Suhu Bumi Terpanas Pernah Pada Zaman FiraunInfo Leony Li - Studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Amerika Serikat, mengungkap bahwa di zaman Firaun (ribuan tahun lalu) iklim dunia mencapai titik terpanas ketimbang suhu Bumi saat ini.

Dilansir Theregister, Rabu (13/3/2013), studi terbaru ini didukung oleh National Science Foundation untuk mengungkap suhu Bumi di masa lalu. Metode analisis ini meliputi serbuk sari kuno, inti es, kerang dari organisme laut dan sebagainya.

Salah satu hasil temuan dari penelitian ini ialah, terungkap bahwa temperatur mulai dari 2000-2009 belum melebihi suhu terpanas dari awal zaman Holosen (5000 hingga 10 ribu tahun lalu). Wikipedia menerangkan, Holosen merupakan skala waktu yang berlangsung antara 9560 sampai 9300 sebelum masehi.

"Dalam 100 tahun terakhir, peningkatan karbondioksida melalui emisi meningkat dari kegiatan manusia," ungkap peneliti Shaun Marcott dari Oregon State University. Diyakini sekira 5000 tahun lalu, Bumi diketahui lebih hangat ketimbang saat ini.

Ilmuwan percaya bahwa terdapat "periode hangat abad pertengahan" yang terjadi sekira seribu tahun lalu. Ilmuwan dari Johannes Gutenberg-Universitat di Mainz, Jerman juga pernah meneliti tentang suhu Bumi ribuan tahun lalu.

Beberapa ilmuwan setuju tentang hasil temuan Marcott. Mereka mengatakan, di zaman pertengahan (Medieval) dan Romawi suhu Bumi menghangat. Dalam penelitian lain, diyakini bahwa pemanasan global diharapkan hanya berlangsung dalam abad ini, yang menandakan meningkatnya permukaan laut pada skala meter atau lebih hingga tahun 2100.

Senin, 11 Maret 2013

Gempa Bumi Jepang "Terasa" Sampai Luar Angkasa

17.31 Posted by Admin , No comments
Gempa Bumi Jepang "Terasa" Sampai Luar AngkasaInfo Leony Li - Gempa Bumi yang terjadi di Tohoku Jepang dua tahun lalu menimbulkan efek besar yang terasa hingga di tepi luar angkasa. Ilmuwan mengatakan, tremor Magnitude 9.0 pada 11 Maret 2011 mengirimkan gelombang suara melalui atmosfer hingga tertangkap satelit Goce.

Dilansir BBC, Senin (11/3/2013), melalui satelit luar angkasa tersebut, instrumentasi super sensitif mampu mendeteksi adanya gangguan. Sistem satelit dapat menangkap gelombang yang melewati gumpalan tipis hingga ketinggian 255 kilometer di atas Bumi.

Observasi ini dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters. Telah lama diakui bahwa gempa besar akan menghasilkan gelombang akustik yang sangat rendah frekuensi atau infrasonik.

Gelombang suara infrasonik ini merupakan jenis gemuruh yang mendalam pada frekuensi di bawah kemampuan telinga manusia. Namun, tidak satupun pesawat luar angkasa atau satelit yang dapat menangkap gelombang tersebut hingga kini.

"Kami telah mencari sinyal ini sebelum satelit lainnya. Saya pikir itu karena Anda memerlukan alat yang sangat baik," kata Rune Floberghagen dari European Space Agency (Esa).

Ia mengatakan, akselerometer Goce memiliki ratusan kali lipat lebih sensitif ketimbang instrumentasi sebelumnya. "Kami mendeteksi gelombang akustik ini tidak hanya sekali, tetapi dua kali yang melewati atas Pasifik dan seluruh Eropa," jelasnya.

Tujuan utama diluncurkannya satelit Goce ialah untuk memetakan perbedaan yang sangat halus dalam tarikan gravitasi di permukaan Bumi. Tarikan tersebut disebabkan oleh distribusi yang tidak merata dari massa di dalam planet.

Ilmwuan mengklaim sudah dapat mempelajari gempa Bumi dari luar angkasa. Khususnya, melalui penggunaan radar untuk memetakan deformasi tanah yang terjadi.

Minggu, 10 Maret 2013

Saat Ini Bumi Mencapai Titik Terpanas

06.34 Posted by Admin No comments
Saat Ini Bumi Mencapai Titik TerpanasInfo Leony Li - Sebuah studi baru menemukan bahwa kondisi bumi saat ini mencapai keadaan terpanas, setelah terbentuk selama 11.300 tahun silam.

Dilaporkan The Guardian, Sabtu (9/3/2013) bahwa para ilmuwan di Hawaii, Mauna Loa Observatorium telah mengukur peningkatan kadar CO2 dalam atmosfer, namun alat tersebut menunjukkan kemungkinan untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 2 derajat celcius itu sangatlah sulit.

Hasil penelitian lain yang diterbitkan dalam Science pada Kamis lalu, juga menunjukkan suhu permukaan global sampai dengan 1500 tahun terakhir telah memperingatkan bahwa pemanasan global seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Hal ini tentu saja mengundang kekhawatiran publik dunia, sebab bila tidak segera diatasi bisa mengancam eksosistem mahluk hidup di dalamnya.

Sekertaris Jenderal Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Christiana Figueres, mengambil sikap dengan menyatakan bahwa perubahan temperatur global yang mengejutkan ini mendesak manusia di dunia untuk bertindak cepat.

"Tindakan cepat sangat diperlukan agar tidak memperbutuk perubahan iklim yang akan berdampak pada kehidupan manusia ke depannya," ujar Figueres.

Ia juga mengatakan pada Associated Press (AP) bahwa faktor utama pemicu pemanasan global ini adalah peningkatan penggunaan bahan bakar fosil.

"Ini merupakan bukti bahwa manusia telah mengalami pemudaran kesadaran untuk menjaga kestabilan kenaikan suhu di bawah 2 derajat celcius," terang Figueres.

Menurutnya juga, secara matematis menjaga kenaikan suhu agar di bawah 2 derajat celcisu merupakan ambang batas "aman" untuk terjadinya pemanasan.

Sabtu, 09 Maret 2013

Robot Cerdas Pendeteksi Keadaan Air 'Filose'

15.15 Posted by Admin No comments
Robot Cerdas Pendeteksi Keadaan Air 'Filose'Info Leony Li - Tim peneliti dari Tallin University of Technology, Estonia, Eropa berhasil mengembangkan robot ikan yang memiliki kemampuan dan kecerdasaan dapat mendeteksi keadaan air. Robot yang dinamakan 'Filose' ini memiliki sensor untuk dapat mendeteksi polusi dalam air, data tentang air, dan sebagainya.

Dilansir treehugger, Jumat (8/3/2013), tim peneliti melaporkan bahwa meskipun materi yang ada pada aliran air di negaranya stabil, tetapi dapat diukur berdasarkan banyak tidaknya yang berubah, seperti arah aliran atau intensitas turbulensi.

Dari hal tersebut yang menonjol kemudian digambarkan sebagai 'flowscape', lanskap aliran yang dapat membantu ikan dan robot ikan ini menyesuaikan diri, menavigasi, dan mengontrol gerakan mereka.

Dengan mencari informasi bagaimana memanfaatkan 'flowscape' bagi keuntungan 'Filose', tim peneliti berhasil menciptakan robot ikan yang cerdas untuk mendapatkan gambaran sekitar perairan tersebut.

Proyek 'Filose' ini telah memberikan kontribusi kepada khalayak tentang sudut pandang 'ikan-sentris' dari lingkungan akuatik. "Eksperimen robot ini juga membantu kita memahami perilku ikan. Dengan data sensornya di bagian kepala dapat merekam kondisi aliran air dan kami dapat memahami apa yang ikan mampu lihat," ungkap ketua tim peneliti, Prof. Willia Megill.

Megill menambahkan, meskipun eksperimen lanjutan masih banyak diperlukan, namun peneliti sudah jelas semakin dekat dengan robot ikan ideal yang dapat digunakan untuk berbagi hal dalam mempelajari keadaan air.